Selasa, 03 April 2012

Perkembangan Masjidil Haram dari Masa ke Masa

Masjidil Haram adalah masjid tertua di dunia. Masjid bertiang 589 buah dari marmer atau granit ini lebih tua 40 tahun dari Masjid Al-Aqsa di Yerussalem. Pembangunan masjid ini untuk pertama kalinya dibangun oleh Nabi Ibrahim AS bersama dengan putranya Ismail AS.

Pada saat ini pembangunan Masjidil Haram telah berlangsung sekitar satu tahun lalu. Pelataran Masjidil Haram terus diperluas. Akibatnya, sekitar 1.000 gedung di sekitar Masjidil Haram dibongkar demi untuk pelayanan jamaah haji yang datang dari seluruh dunia. Pembangunan, penyempurnaan, dan perluasan Masjidil Haram adalah bagian dari sejarah dalam perjalanannya dari masa ke masa.

Pada awalnya, masjid yang memiliki 152 buah kubah ini sangat sederhana bentuknya. Bangunannya terdiri dari Ka’bah yang terletak di tengah-tengahnya. Kemudian ada sumur zamzam dan Maqam Ibrahim di sampingnya. Ketiga bangunan tersebut berada di tempat terbuka.
Pada masa awal perkembangan Islam sampai pada masa pemerintahan khalifah pertama Abu Bakar As-Shiddiq (543 M), bentuk bangunan Masjidil Haram juga masih sederhana. Masjid ini belum memiliki dinding sama sekali.Pada tahun 644 M, di masa Khalifah Umar bin Khattab (khalifah kedua), ia mulai membuat dinding masjid ini. Akan tetapi, dindingnya masih rendah, tidak sampai setinggi badan orang dewasa. Umar juga membeli tanah di sekitar Masjidil Haram untuk memperluas bangunan masjid guna menampung jamaah yang semakin hari semakin banyak.

Bangunan Masjidil Haram selalu diperluas dan diperindah dengan semakin banyaknya umat Islam yang berkunjung ke Baitullah dari masa ke masa.Khalifah Utsman bin Affan juga memperluas bangunan masjid tersebut pada masa pemerintahannya. Kemudian Abdullah Ibn al-Zubair (692 M) memasang atap di atas dinding yang telah dibangun. Hajjaj bin Yusuf al-Tsaqafi (714 M) yang pernah berkuasa di Makkah, juga pernah melakukan penyempurnaan bangunan Masjidil Haram. Demikian pula pada masa Khalifah al-Mahdi (Khalifah Bani Abbasiyah) yang berkuasa pada tahun 885 M, dibuat deretan tiang yang mengelilingi Ka’bah yang ditutup dengan atap. Saat itu dibangun pula beberapa menara.

Pada pemerintahan Sultan Salim II dari Kekhalifahan Turki Utsmani yang dilanjutkan oleh putranya, Sultan Murad III, dilakukan beberapa kali perbaikan dan perluasan bangunan Masjidil Haram. Pada masa ini juga dibuat atap-atap kecil berbentuk kerucut. Bentuk dasar bangunan Masjidil Haram hasil renovasi Dinasti Utsmani inilah yang dapat dilihat sekarang ini.

Pada masa pemerintahan kerajaan Saudi Arabia yang bertindak sebagai Khadim al-Haramain (pelayan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi) beberapa tahun lalu, juga dilakukan perbaikan, penyempurnaan, dan perluasan Masjidil Haram. Tempat Sa’i yang sebelumnya berada di luar masjid, kini dimasukkan ke dalam dan dilengkapi dengan jalur-jalur sa’i yang dilengkapi atap yang teduh.

Dampak Bangunan Tinggi di Sekitar Masjidil Haram

           Kota makkah yang menyandang sebagai kota suci bagi umat islam, yang setiap tahunnya menjadi tempat menunaikan ibadah haji bagi umat muslim kini telah terkepung oleh gedung-gedung pencakar langit. Akibatnya ketenangan dan kekhusu’an umat islam untuk beribadah terganggu.
Ka’bah yang terletak di tengah masjid Haram dan menjadi arah sholat bagi kaum muslim seluruh dunia, semakin tenggelam oleh berdirinya gedung-gedung tinggi yang berada di sekitarnya. Hal seperti perulangan kejadian yang telah Allah firmankan dalam surat Al-fill ayat 1-5
Artinya :
1.  Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu Telah bertindak terhadap tentara bergajah?
2.  Bukankah dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka’bah) itu sia-sia?
3.  Dan dia mengirimkan kapada mereka burung yang berbondong-bondong,
4.  Yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar,
5.  Lalu dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat).

Bukan hanya itu peninggalan sejarah umat islam terancam keberadaannya, salah atu peninggaln bersejarah yang diratakan dengan tanah adalah benteng Ajyad. Inilah benteng yang dibangun pada 1775 yang sangat berjasa dalam mempertahankan Kota Makkah. Benteng ini  dibangun ketika Makkah masih di bawah pemerintahan Turki Otsmani.

            Aura Makkah sebagi tempat suci sekarang sudah semakin terkikis, karena kota Makkah saat ini makin penuh dengan bangunan-bangunan tinggi mulai dari hotel, pusat perbelanjaan dan toko-toko besar yang menjual produk Barat. Sebut saja kedai kopi Starbucks, Cartier and Tiffany, H&M dan Topshop.

            Proyek perluasan kompleks Masjidil Haram meliputi proyek pembangunan sarana pendukung lainnya, seperti perumahan, sarana transportasi dan fasilitas lainnya bagi warga setempat maupun jamaah haji. Proyek expansi ini merupakan proyek pembangunan bangunan tinggi yang digarap kontraktor termasyhur, Bin Laden.
Proyek perluasan ini menyebabkan banyak bangunan digusur, atau diratakan dengan tanah. Tentu saja, proyek ini menyebabkan beberapa dampak, baik positif maupun negatif. Kerajaan Arab Saudi mengeluarkan dana mencapai 60 triliyun real untuk ganti rugi penggusuran.
Bangunan-bangunan tinggi yang dibangun dalam proyek ini memberikan kemudahan bagi para jamaah haji karena fasilitas yang semakin lengkap. Proyek raksasa ini dimaksudkan agar para jamaah haji dapat semakin nyaman melaksanakan ibadah haji. Sebagian kalangan yang pro terhadap pembangunan ini berpendapat bahwa proyek perbaikan fasilitas untuk jamaah haji ini sangat bermanfaat. Kompleks Masjidil Haram semakin megah dan nyaman.

            Di samping itu, proyek ini juga berdampak negatif baik secara fisik maupun non-fisik. Secara fisik, bangunan-bangunan tinggi itu menyebabkan banyak bangunan lain disekitarnya kurang mendapat cahaya matahari. Selain itu, bangunan yang serba modern ini membuat makkah tampak kecil di kompleks ini. View dari luar kompleks ke arah Masjidil Haram pun terhalang oleh bangunan yang serba tinggi ini, sehingga masyarakat tidak dapat dengan mudah menikmati keindahan Masjidil Haram. Demikian juga dengan arah pandang dari Masjidil Haram ke wilayah sekitarnya yang terbatas.
Dari segi non-fisik, keberadaan bangunan tinggi ini membawa dampak negatif bagi masyarakat dan para jamaah haji. Keberadaan bangunan tinggi serba mewah dan modern dangan berbagai fasilitas ini akan membuat masyarakat kurang memaknai sejarah ke-Islam-an yang begitu sakral di Masjidil Haram. Para jamaah yang datang untuk beribadah pun akan terganggu konsentrasinya akibat jajaran bangunan tinggi yang menawarkan berbagai fasilitas glamour sebelum mereka memasuki Masjidil Haram. Selain itu berbagai fasilitas yang menawarkan kemudahan bagi para jamaah haji menyebabkan para jamaah haji kurang bisa merasakan bagaimana perjuangan Nabi SAW dan para sahabatnya dalam melaksanakan dakwah Islam dan ketika melaksanakan ibadah haji.

           Sekalipun keberadaan bangunan tinggi tidak dapat mengurangi esensi kewibawaan dan kesucian Masjidil Haram, namun keberadaannya mengikis sejarah keislaman di Masjidil Haram dengan segala bentuk modernisasi yang materialistis. Hal semacam ini digambarkan sebagai sejarah yang berulang, dimana dulu pada zaman jahiliyah Makkah dikepung pasukan gajah hingga Allah mendatangkan bala bantuan burung-burung Ababil untuk melindungi Makkah. Di zaman modern ini Makkah dikepung oleh bangunan-bangunan tinggi serba modern. Entah bala bantuan atau bencana yang akan didatangkan oleh Allah pada umat Islam disekitar Masjidil Haram dan di seluruh dunia.

PENGERTIAN ILMU BUDAYA DASAR


            Ilmu budaya dasar adalah pengetahuan yang diharapkan dapat memberikan pengrtahuan dasar dan pengertian umum tentang konsep-konsep yang dikembangkan untuk mengkaji masalah –masalah dan kebudayaaan.
Istilah ilmu budaya dasar dikembangkan diindonesia sebagai pengganti istilah ” Besic humanitics “yang berrasal dari bahsa inggris “The Humanities”. Adapun istilah Humanitics itu sendiri bersal dari bahasa latin Humanus yang bias diartikan manusiawi, berbudaya dan halus (fefincd). Dengan mempelajari The Humanitics diandaikan seseorang akan bias menjadi lebih manusiawi ,lebih berbudaya dan lebih halus. Secara demikian biasa dikatakan bahwa The humanitics berkaitan dengan masalah nilai-nilai, yaitu nilai-nilai manusia sebagai homo humanus atau manusia berbudaya. Agar manusia bias menjadi humanus, mereka harus mempelajari ilmu yaitu The Humanitics disamping tidak meninggalkan tanggung jawabnya yang lain sebagai manusia itu sendiri.
Kendatipun demikian, ilmu budaya dasar (basic Humanitics) sebagai satu mata kuliah tidaklah identik denagn The Humanitics (yang disalin kedalam bahasa indonesi menjadi : pengetanuan budaya).

            Dengan kata lain dapatlah dikatakan bahwa setelah mendapatkan matakuliah IBD ini, mahasiswa diharapkan memperlihatkan :
a.Minat dan kebiasaan menyelidiki apa-apa yang terjadi disekitarnya dan diluar lingkungannya, menelaah apa yang dikerjakan sendiri dan mengapa.
b.Kesadaran akan pola-pola nilai yang dianutnya serta bagaimana hubungan nilai-nilai ini dengan cara hidupnya sehari-hari
c.Keberanian moral untuk mempertahankan nilai –nilai yang disarankannya sudah dapat diterimanya denagn penuh tanggung jawab dan sebaliknya menolak nilai-nilai yang tidak dapat dibenarkan.(Harsya Bachtiar : 1980)




TUJUAN ILMU BUDAYA DASAR (IBD)

            Tujuan matakuliah ilmu budaya dasar adalah untuk mengembangkan kepribadian dan wawasan pemikiran, khususnya berkenaan denga kebudayaan, agar daya tangkap,persepsi dan penalaran mengenai lingkungan budaya mahasiswa dapat menjadi lebih halus. Untuk bisa menjankau tujuan tersebut diatas,diharapkan ilmu budaya dasar dapat :
a.Mengusahakan penajaman kepekaan mahasiswa tehadap lingkungan budaya, sehinga mereka akan lebih mudah menyesuaikan diri denagn lingkugan yang baru, terutama untuk kepentingan profesi mereka.
b.Memberi kesempatan pada mahasiswa untuk dapat memperluas pandangan mereka tentang masalah kemanusiaan dan budaya, serata mengembangkan daya kritis mereka terhadap persoalan-persoalan yang menyangkut kedua hal tersebut.
c.Mengusahakan agar mahasiswa sebagai calon pemimpin bangsa dan negara, serta ahli dalam bidang disiplin yang ketat. Usaha ini terjadi karena ruang lingkup pendidikan kita amat dan condong membuat manusia spesialis yang berpandangan kurang luas.
d.Mengusakan wahana komunikasi para akademisi kita, agar mereka lebih mamapu berdialog satu sama lain. Denagn memiliki satu bekal yang sama, para akademisi diharpkan dapat lebih lancar berkomunikasi kalau cara berkomunikasi ini selanjutnya akan lebih memperlancar pelaksanaan pembanguana dalam berbagai bidang keahlian.


RUANG LINGKUP ILMU BUDAYA DASAR

            Bertitik tolak dari kerngka tujuan yang telah dikemukakan diatas ada dua masalah pokok yang biasa dipakai sebagai bahan pertimbangan untuk mennentukan ruang lingkup kajian matakuliah ilmu budaya dasar kedua msalah pokok tersebut ialah :
a.Berbagai aspek kehidupan yang keseluruhannya merupakan ungkapan masalah kemanusiaan dan budaya yang dapat didekati dengan mengunakan pengetahuan budaya (The Humanitics),baik dari masing-masing keahlian (disiplin) didalam pengetahuan budaya.
b.Hakekat manusia yang satu atau universal, akan tetapi yang beraneka ragam perwujudannya dalam kebudayaan masing-masing zaman dan tempat.
Kedua masalah pokok tersebut di atas sudah barang tentu masih memerlukan penjabaran lebih lanjut untuk bisa dioperasianalkan. Rumusan masalah-masalah yang akan di kaji dalam ilmu budaya dasar diformulasikan kedalam atau tema, yaitu manusia sebagai mahluk budaya. Tema ini di kembangkan lebih lanjut kedalam pokok bahasan dari sub bahasan.yaitu:

1.Manusia dan cinta kasih
- Kasih sayang
- Kemesraan
- Pemujaan
2.Manusia dan keindahan
- Renungan
- Kehalusan
- Keserasian

3.Manusia dan penderitaan
- Rasa sakit
- Kesyahidan
- Siksaan
- Kesengsaraan
- Neraka

4.Manusia dan keadilan
- kejujuran
- pemulihan nama baik
- pembalasan

5.manusia dan pandangan hidup
- cita-cita
- kebajikan

6.manusia dan tanggung jawab serta pengabdian
- kesadaran
- pengorbanan

7.manusia dan kegelisahan
- ketrasinagn
- kesepian
- ketidakpastian

8.manusia dan harapan
- kepercayaan
- harapan